KURANGI GULA, GARAM, MSG

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:

Salah satu masalah yang menyebabkan anak kami sering enggan makan nasi adalah karena dia telah makan jajanan super gurih atau super manis. Jajanan seperti ini biasanya banyak mengandung garam, gula, dan monosodium glutamat (MSG). Setelah menikmati gurih MSG, lidahnya menjadi tidak begitu berselera terhadap nasi atau sumber karbohidrat lain yang rasanya tawar.
Ini masalah pelik yang juga dihadapi sebagian besar orangtua zaman sekarang. Masalah ini tidak hanya menimpa anak balita tapi juga anak-anak usia sekolah dasar.
Saat ini kita memang hidup di zaman bumbu instan. Anak-anak adalah mangsa empuk pabrik-pabrik makanan kecil. Lihat saja jajanan anak yang dikuasai oleh penyedap rasa. Hampir tidak mungkin kita menjauhinya. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkannya.
Kami sendiri berusaha sebisa mungkin menjauhkan si kecil dari jajanan gurih MSG. Kami sampai sering membiarkan dia menangis daripada makan keripik MSG. Yang jadi masalah, dia bisa memperoleh makanan seperti ini dari mana saja. Mungkin dari kawan bermainnya, sepupunya, neneknya, tantenya, tetangga, atau kerabat yang kami kunjungi.
Sebisa mungkin, anak-anak sebaiknya memang dijauhkan dari bumbu penyedap rasa. Penggunaan gula dan garam sebaiknya juga sesedikit mungkin. Makin banyak gula dan garam yang kita gunakan di dalam masakan, rasa masakan itu akan semakin kuat. Ini bisa membuat si kecil menolak jika diberi makanan seperti nasi yang rasanya tawar.
Ini mirip dengan orang dewasa. Orang yang biasa makan makanan asin dan ber-MSG akan kehilangan nafsu makan jika masakan yang dihidangkan buatnya tidak asin dan tidak mengandung penyedap rasa.
Karena alasan inilah sebaiknya MPASI yang kita berikan, terutama MPASI pertama, sebaiknya dibuat sendiri, bukan MPASI buatan pabrik. MPASI buatan pabrik, entah itu biskuit atau bubur, biasanya mengandung tambahan gula, garam, kadang juga MSG, dan bahan-bahan tambahan pangan lain.
Bumbu-bumbu ini memang akan membuat MPASI pabrik itu terasa enak. Tapi kita harus hati-hati sebab bisa saja ini akan membuat si anak tidak doyan MPASI buatan ibunya kalau rasanya tidak seenak biskuit atau bubur buatan pabrik.
Lidah Bayi Masih Peka
Gula, garam, MSG, perasa makanan, pemanis buatan dan sejenisnya pada dasarnya adalah bahan pangan yang tidak dibutuhkan oleh bayi dan balita. Bahan-bahan ini adalah makanan orang dewasa. 
Harus kita akui, lidah orang dewasa sebetulnya sudah tercemar oleh bahan-bahan tambahan pangan. Kita hampir tidak pernah makan ikan tanpa tambahan garam dan bumbu. Padahal daging ikan saja sebetulnya sudah gurih tanpa ditambah apa-apa. Begitu pula dengan nasi putih yang sebetulnya rasanya cukup enak walaupun dimakan begitu saja tanpa tambahan apa-apa. Sesekali coba saja memanggang ikan tanpa bumbu apa-apa lalu ikan itu dimakan dengan nasi begitu saja, kunyah pelan-pelan, dan nikmati rasanya. Itulah rasa makanan yang masih natural. 
Karena lidah kita sudah tercemar, kita tidak boleh menggunakannya sebagai standar buat makanan balita. Saat awal kita memperkenalkan MPASI, sebaiknya makanan itu berada dalam bentuk aslinya. Yang masih alami, belum ditambah gula, garam, atau bumbu.
Dengan begitu si anak akan belajar mengenali rasa makanan dalam bentuk aslinya: rasa nasi, rasa daging ikan kukus, rasa kentang rebus, dan seterusnya. Bukan rasa nasi, ikan, dan kentang yang sudah dibumbui.
Secara alami bayi sebetulnya bisa menerima makanan yang rasanya tawar. Contoh gampang adalah ASI. Bandingkan rasa susu segar dengan susu formula. Tentu lebih enak susu formula karena susu olahan pabrik hampir selalu ditambah gula dan aroma.
Ini salah satu alasan kenapa bayi yang sudah telanjur dibiasakan minum susu formula akan lebih sulit menerima ASI. Begitu pula jika sejak awal bayi sudah diperkenalkan dengan bubur dan biskuit buatan pabrik yang gurih dan manis, maka ia akan lebih sulit menerima makanan-makanan yang tawar.
Bisa Memicu Radang Tenggorok
Dalam urusan ini, kita bisa belajar dari metode Baby-led Weaning (BLW). Dalam BLW, anak disuguhi makanan-makanan dalam bentuk aslinya seperti kentang rebus, ubi rebus, singkong rebus, nasi lembek, brokoli kukus, pisang, pepaya, dan sejenisnya. Karena bayi dibiasakan dengan makanan-makanan alami, lidah mereka tidak lekas bosan dengan makanan-makanan yang rasanya tawar. Walaupun kita tidak menerapkan BLW, kita bisa mengadopsi sisi baik dari metode ini. 
Jajanan anak tidak hanya bisa mengurangi nafsu makan tapi juga bisa membuat anak mengalami radang tenggorok dan batuk, terutama jika jajanan itu bumbunya berupa serbuk seperti bumbu mi instan yang ditaburkan. Jika si kecil sampai mengalami radang tenggorok, masalahnya bisa dobel sebab ketika si anak batuk atau radang, ia akan menjadi lebih sulit makan.
Bumbu kuat juga harus kita waspadai dari makanan warung, misalnya soto atau bakso. Sering terjadi, karena tidak sabar dengan anak yang susah makan, orangtua lari ke solusi instan, membelikannya bakso atau soto.
Bakso maupun soto sebetulnya adalah makanan yang sehat bagi anak karena memberi protein hewani. Namun, seperti yang kita tahu, pada umumnya penjual bakso maupun soto begitu tergantung dengan penyedap rasa MSG.
Dalam jangka panjang, bakso dan soto MSG ini bukanlah solusi tepat untuk mengatasi masalah susah makan pada anak. Lebih baik orangtua membuat soto dan bakso sendiri sehingga bisa mengatur seberapa banyak garam yang dipakai.

Kami sendiri di rumah sangat jarang menggunakan bumbu MSG, baik untuk makanan si kecil maupun untuk masakan kami sendiri. MSG sendiri sebetulnya tidak berbahaya jika digunakan sewajarnya. Ukuran “wajar” memang tidak jelas. Tapi jajanan gurih dengan bumbu seperti bumbu mi instan itu sudah tergolong tidak wajar bagi anak balita. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s