Media dan Pencekokan Pangan

Tulisan ini dimuat di Geotimes.co.id/

Penulis: Mohammad Sholekhudin

Baru-baru ini, lembaga perlindungan konsumen Australia menghukum denda Unilever Australia karena dianggap telah melakukan kecurangan publik. Es krim Paddle Pop buatan mereka diklaim sebagai jajanan sehat untuk para murid sekolah, bahkan produk itu dilengkapi dengan logo telah memenuhi syarat Pedoman Nasional Kantin Sekolah yang Sehat. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Bagi kita, berita semacam ini mungkin hanya sebuah berita kecil yang hampir tidak ada maknanya sama sekali bagi kehidupan kita. Tapi kalau kita mau melakukan pengamatan serupa, kita akan segera menyadari bahwa problem gizi yang diciptakan oleh produsen makanan di negara kita sesungguhnya sangat runyam. Di media massa, klaim-klaim sehat seperti itu berseliweran dan telah menjadi fakta yang dianggap benar walaupun kenyataannya tidak demikian. Celakanya, kampanye seperti ini melibatkan para ahli kesehatan dan ahli gizi yang kredibilitasnya biasa dijadikan sebagai referensi.

Ambil contoh, iklan salah satu produk susu sereal instan yang setiap saat membombardir ruang keluarga kita lewat televisi. Iklan ini dibintangi oleh seorang guru besar ilmu gizi yang juga ketua organisasi ahli gizi. Pariwara ini diawali dengan narasi bahwa tujuh dari sepuluh anak Indonesia kekurangan gizi sarapan. Ini memang fakta karena hasil penelitian menunjukkan demikian. Narasi ini dilanjutkan dengan pesan untuk makan sarapan sehat sebelum pukul sembilan pagi. Sampai di sini tidak ada yang keliru. Lagi pula, siapa yang meragukan fatwa ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia?

Namun, kampanye ini menjadi berbelok arah ketika scene sang profesor sudah habis dan dilanjutkan dengan “definisi” tentang sarapan sehat. Sampai di sini, yang membuat definisi itu adalah produsen susu sereal instan, bukan sang ahli gizi. Dan yang disebut “sarapan sehat” itu adalah minum seduhan susu sereal instan yang mengandung ini dan itu. (Harus kita akui, agen periklanan memang cerdik sekali!)

Pesan terakhir dari iklan ini seolah-olah mengejek iklan yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan tentang makanan sehat yang berisi makanan pokok, lauk protein, sayur, dan buah. Kalau memang anak-anak Indonesia kekurangan gizi sarapan, apakah lantas solusinya adalah sarapan susu sereal instan yang berkadar gula cukup tinggi dan seratnya tidak seberapa? Bukankah sarapan dengan menu seperti yang biasa kita makan sehari-hari, yang lebih kaya serat dan rendah gula, sebetulnya lebih sehat? Budaya sarapan instan seperti ini hanya akan menguntungkan pabrik sereal siap saji dan menambah beban nasional akibat impor bahan pangan.

Disadari atau tidak, masalah gizi tidak bisa kita lepaskan dari masalah sosial, budaya, bahkan politik dan ekonomi. Contoh klasik adalah ayam goreng cepat saji dan minuman bersoda. Ahli gizi mana pun akan mengatakan bahwa kedua jenis makanan itu jelas-jelas tidak menyehatkan. Gizinya sama sekali tidak seimbang. Terlalu banyak gula atau lemak, garam, serta terlalu sedikit serat dan vitaminnya. Di negara asalnya pun makanan-makanan ini disebut junk food.

Sebutan “makanan sampah” mungkin berlebihan sebab bagaimanapun nasi dan ayam goreng adalah sumber gizi yang memberi kita karbohidrat, protein, dan lemak yang kita butuhkan. Masalahnya adalah komposisi gizinya yang tidak seimbang. Kita semua sudah mafhum dengan pengetahuan semacam ini. Celakanya, kesadaran ini kalah oleh kampanye iklan produk-produk tersebut, yang memang harus diakui sangat efektif. Bukan hanya itu, kita bahkan meniru budaya Amerika tersebut. Lihat saja gerai-gerai lokal ayam goreng ala Kolonel Sanders yang sekarang menjamur di mana-mana, hingga ke pelosok desa.

Tentu tidak semua makanan ala asing adalah junk food. Ini harus diakui secara objektif. Banyak di antaranya merupakan makanan-makanan yang memang bergizi. Buah-buah impor seperti apel dari Amerika, anggur dari Cile, jeruk dari Cina, kiwi dari Selandia Baru, pir dari Australia adalah contoh buah-buah bergizi yang tidak kita miliki.

Begitu juga dengan ikan subtropis seperti ikan salmon atau minyak biji-bijian semacam minyak zaitun yang banyak tersedia di pasar swalayan. Ikan salmon memang memiliki gizi yang lebih baik dibandingkan kebanyakan ikan. Begitu juga minyak zaitun, minyak kanola, dkk yang memiliki kandungan lemak baik sangat tinggi. Bahan-bahan ini layak masuk ke dapur kita sesekali. Meski begitu, kita tetap harus bersikap adil. Bahan pangan lokal harus menjadi prioritas utama. Buah-buah impor, ikan salmon, serta minyak zaitun dkk itu memang bergizi tetapi buah lokal dan ikan lokal tak kalah gizinya. Apalagi buah lokal dan ikan lokal jauh lebih bervariasi.

Rekayasa Media Massa

Kadang kita terdorong untuk mengonsumsi makanan impor setelah membaca artikel di media massa yang menyatakan bahwa buah kiwi mengandung zat ini itu yang berkhasiat begini begitu, ikan salmon mengandung lemak baik ini dan itu yang berkhasiat begini begitu. Sebagai konsumen, kita harus kritis dan memahami cara kerja media massa. Banyak artikel media adalah hasil terjemahan begitu saja dari artikel berbahasa Inggris.

Harus diakui bahwa Amerika Serikat dan Eropa sampai saat ini masih menjadi kiblat perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu gizi. American Journal of Clinical Nutrition, Harvard School of Public Health, Food and Drug Administration, National Institute of Health, dan sebangsanya adalah institusi-institusi yang sampai saat ini masih menjadi referensi internasional soal gizi dan kesehatan.

Karena artikel-artikel kesehatan itu dari Amerika atau Eropa, wajar jika yang dibahas adalah makanan-makanan Barat. Jika mereka menulis artikel 10 Makanan Paling Sehat di Dunia, tentu wajar jika daftarnya didominasi oleh makanan-makanan subtropis. Kecil sekali kemungkinan mereka membahas ikan tongkol, tenggiri, tempe, manggis, atau mangga.

Idealnya, pengetahuan gizi dari dunia Barat mestinya tidak sekadar diterjemahkan bahasanya begitu saja, tetapi juga diadaptasi pesannya dalam konteks lokal Indonesia. Namun, yang seperti ini membutuhkan usaha lebih banyak. Kebanyakan awak media massa tak mau bersusah-susah melakukannya.

Ini masih belum seberapa. Kadang artikel media massa merupakan iklan tersamar atau bahkan bentuk balas budi. Mungkin karena si wartawan baru saja diajak jalan-jalan ke Selandia Baru untuk mengunjungi kebun kiwi, atau baru saja ditraktir oleh perusahaan importir minyak kanola. Atau perusahaan importir itu membayar biaya iklan tapi minta artikelnya tidak dimuat dalam bentuk iklan tapi dibuat dalam bentuk artikel biasa.

Ini semua modus biasa di media massa. Cara seperti ini lumrah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan untuk membentuk opini bahwa makanan jualannya menyehatkan. Robert Albritton, ekonom York University, Kanada, penulis buku Let Them Eat Junk: How Capitalism Creates Hunger and Obesity, menyebut fenomena ini sebagai “food indoctrination”. Pencekokan.

Importir makanan tentu berkepentingan agar kita mengonsumsi produk mereka. Padahal, untuk mendapatkan gizi buah, kita tak harus makan apel fuji, apel washington, pir, anggur merah, kiwi. Indonesia negara tropis yang memiliki jenis buah jauh lebih banyak dari negara subtropis mana pun.

Kita memang tak memiliki buah pir dan kiwi, juga tak memiliki anggur sebagus anggur red globe, apel sebagus apel Cina dan Amerika. Tetapi kita memiliki buah-buahan yang panennya bergantian dan selalu tersedia sepanjang tahun: mangga, rambutan, kelengkeng, duku, jambu air, jambu biji, sawo, belimbing, jeruk, semangka, apel, pepaya, melon, nanas, manggis, salak, buah naga, dan masih banyak lagi. Semua ini jika digabungkan akan memberi gizi yang jauh lebih baik daripada gabungan buah-buah impor.

Hal yang sama juga berlaku untuk oat, gandum utuh, dan sejenisnya. Beberapa tahun belakangan ini oat sangat populer karena dianggap sebagai makanan sehat yang bisa menurunkan berat badan, menurunkan kadar kolesterol, mencegah serangan jantung, dan sebagainya. Memang betul bahwa oat adalah makanan sehat. Itu sudah dibuktikan oleh banyak sekali penelitian. Tetapi kita sebetulnya punya makanan versi lokal yang sama sehatnya, yaitu beras merah. Dengan harga yang lebih murah, kita bisa mendapatkan manfaat yang sama. Kalau ada yang lebih murah, kenapa harus pilih yang mahal?

Yang Lokal-Tradisional Lebih Sehat

Dalam urusan pangan bergizi, Indonesia sebetulnya jauh lebih kaya daripada Amerika atau Eropa. Kita hidup di daerah tropis dengan berbagai jenis buah-buahan yang kadang kita tidak tahu namanya. Kita juga negara kepulauan dengan kekayaan laut yang melimpah dan luar biasa beraneka ragam. Jika sempat, cobalah sesekali berkunjung ke pasar ikan tradisional di daerah nelayan. Di sana kita bisa menemukan berbagai jenis tangkapan nelayan yang mungkin belum pernah kita makan.

Begitu pula jika ingin menemukan berbagai jenis buah eksotis, sering-seringlah berkunjung ke pasar tradisional. Di sana kita akan menemukan berbagai jenis buah yang tak akan kita jumpai di pasar swalayan, seperti buah kecapi, rukem, alkesa, matoa, aneka pisang, aneka jambu air, dan masih banyak lagi. Buah-buah tropis, ikan tropis, dan hewan-hewan tropis secara alami tentu lebih sesuai dengan kebutuhan gizi penduduk tropis seperti kita.

Lebih dari itu, bahan pangan yang dihasilkan oleh produsen tradisional pada umumnya lebih menyehatkan daripada yang dihasilkan oleh produsen skala industri besar. Sebagai contoh, daging sapi lokal yang biasa dijual di pasar-pasar tradisional bisa memiliki gizi yang berbeda dari daging sapi impor. Sapi lokal pada umumnya diberi makan rumput-rumputan terus, sementara sapi yang diternakkan dalam skala industri besar biasanya diberi makan biji-bijian sebelum disembelih. Pemberian pakan biji-bijian bertujuan membuat tekstur daging menjadi lebih empuk dan lebih enak.

Namun, ternyata jenis pakan ini terbukti mempengaruhi komposisi lemak daging yang dihasilkan. Sapi yang makan rumput ternyata memiliki lemak yang lebih baik daripada sapi yang makan biji-bijian. Daging sapi lokal mungkin sedikit lebih berserat tapi gizinya lebih baik.

Begitu pula daging dan telur ayam kampung yang dipiara bebas di pekarangan memiliki komposisi lemak yang lebih baik daripada daging dan telur ayam ternak yang diberi pakan pelet. Telur ayam kampung memang lebih mahal karena produktivitasnya tidak setinggi ayam petelur, tapi lebih kaya lemak baik.

Daftar perbandingan antara pangan tradisional dan industri ini masih bisa diperpanjang lagi. Misalnya, gula merah buatan para petani mengandung komposisi gizi yang lebih baik serta indeks glisemik yang lebih rendah (karbohidratnya lebih bersahabat) daripada gula putih. Beras pecah kulit yang warnanya kelabu mengandung vitamin yang lebih banyak daripada beras sosoh yang putih bersih. Ikan segar dari pasar nelayan mengandung lemak baik yang lebih tinggi daripada ikan sarden kalengan. Daging segar yang baru kita beli di pasar memiliki nutrisi lebih baik daripada kornet dan sosis. Dan seterusnya. Semua sudah jelas. Tinggal kita memilih yang mana.

Pencekokan Pangan

Indoktrinasi dalam urusan pangan harus kita waspadai karena kampanye ini terjadi setiap hari lewat televisi, internet, dan media-media massa. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat dengan gamblang meskipun mungkin kita tidak menyadarinya bahwa itu adalah pencekokan. Misalnya, anjuran minum dua gelas susu setiap hari yang gencar diiklankan oleh produsen susu berkalsium tinggi. Akibat gencarnya iklan ini, kita menyangka bahwa cara utama mencegah osteoporosis adalah minum susu, padahal faktanya adalah olahraga.

Susu memang makanan yang bergizi, kaya protein, juga kalsium. Minuman ini perlu kita konsumsi sebagai variasi makanan sehari-hari, tapi kita sebetulnya tidak perlu meminumnya setiap hari. Kalau makanan kita cukup bervariasi sesuai Pedoman Umum Gizi Seimbang, kebutuhan kita terhadap kalsium dan protein sudah tercukupi dari makanan sehari-hari.  Pabrik susu kemasan tentu berkepentingan dengan tingginya konsumsi susu masyarakat. Makin tinggi konsumsi susu, tentu makin besar keuntungan yang mereka dapat. Itu sebabnya mereka giat berkampanye anjuran minum susu setiap hari.

Contoh lain, kampanye iklan agar kita minum cairan isotonik setiap hari, tak cuma sehabis olahraga tapi juga saat bangun tidur. Logika yang mereka jadikan sebagai referensi adalah bahwa setiap saat kita kehilangan cairan dan elektrolit. Logika seperti ini memang benar. Akan tetapi kita juga tak boleh lupa bahwa kalau kita cukup minum air dan makan dengan gizi seimbang, sebetulnya kebutuhan elektrolit sudah terpenuhi dari makanan dan minuman kita yang bervariasi itu. Nasi, sayur, buah, lauk-pauk sebetulnya sudah mengandung mineral dalam jumlah yang cukup.

Tentu saja kita tetap boleh minum cairan isotonik sehabis berolahraga, misalnya. Namun, jangan sampai ini melupakan kita dari fakta bahwa sebetulnya kita lebih dianjurkan mendapatkan mineral dari makanan sehari-hari yang bervariasi dan bergizi seimbang. Kalau sekadar untuk minuman penyegar sehabis berolahraga, es degan atau es teh sebetulnya lebih bergizi.

Tentu saja kita tak bisa berharap media-media massa gencar mempromosikan air kelapa muda dan teh, kecuali jika yang dipromosikan itu adalah air kelapa kemasan atau teh kemasan buatan pabrik. Selama kita tidak kritis, selama itu pula kita akan terus dicekoki dengan berbagai makanan ini dan minuman itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s