MENJADI DOKTER PERTAMA BAGI ANAK

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:



Orangtua adalah “dokter” yang paling tahu tentang kesehatan anak. Para dokter spesialis anak memang memiliki dasar ilmu yang lebih komprehensif mengenai ilmu kesehatan anak. Tapi yang lebih tahu tentang segala hal mengenai si anak tentunya adalah orangtuanya sendiri.
Agar benar-benar bisa menjadi “dokter” bagi si kecil, kita harus melakukan pengamatan menyeluruh terhadap buah hati kita. Persis seperti dokter yang memeriksa denyut nadi, mendengarkan detak jantung dan suara paru-paru, serta bertanya tentang ini dan itu.
Kita pun harus melakukan pengamatan dengan saksama setiap saat. Jika dokter hanya punya waktu beberapa belas menit di ruang praktik, kita punya waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Jangan sampai kita hanya suka memotret si kecil dan memajang fotonya di Facebook tapi tidak paham sama sekali mengenai kesehatannya.
Jika perlu, kita mencatat semua hasil pengamatan itu. Sebagai contoh, berikut ini adalah catatan kami mengenai si kecil:
Pada waktu masih menyusu ASI eksklusif, dia sering tiba-tiba muntah begitu saja setelah menyusu. Sampai usia 1,5 tahun, dia masih sering menolak makan nasi dan lebih suka makan bubur, yang tentunya lebih mudah ditelan. Dugaan saya, ini terjadi karena sistem cernanya belum berkembang dengan baik.
Dalam hal tidur, ia punya kebiasaan yang unik.Dia susah sekali mengawali tidur. Seperti ada penghalang antara kondisi terjaga dan kondisi tidur. Kalau ia berangkat tidur, badannya akan bolak-balik tengkurap, telentang, miring ke kiri, miring ke kanan, seperti merasa tidak nyenyak. Bahasa Jawanya, mosak-masik. Kalau ia berangkat tidur dengan kepala di selatan, sepanjang tidur kepalanya akan berpindah-pindah di seluruh penjuru kasur sehingga waktu bangun tidur mungkin kepalanya ada di sebelah utara.
Posisi tidurnya lucu sekali. Kepalanya hampir selalu dalam posisi mendongak. Kadang ia tidur dengan kepala di kasur tanpa bantal sementara kakinya diangkat dan disandarkan di tembok seperti orang dewasa yang sedang meredakan bengkak di kakinya karena terlalu lama berdiri.
Dia sangat aktif tapi tidak sampai hiperaktif. Sejak bisa berjalan, ia cenderung berjalan cepat seperti berlari, jarang berjalan pelan. Walaupun hal-hal ini tampak seperti tidak berhubungan dengan urusan makan, menurut dr. Widodo Judarwanto, Sp.A, ternyata gejala-gejala seperti ini bisa jadi menunjukkan adanya masalah sistem pencernaannya.
Dia suka sekali bermain. Maunya ditemani terus bermain sepajang hari. Bahkan dia lebih suka diajak bermain daripada tidur walaupun sebetulnya dia sudah mengantuk. Kalau ada yang menemaninya bermain, seharian dia tidak menangis sama sekali. Kalau hatinya puas bermain, dia menjadi lebih doyan makan.
Dia gampang sekali bosan. Tidak hanya dalam hal makanan tapi juga dalam hal mainan. Bahkan, kalau melihat film kartun diulang-ulang, dia menjadi bosan dan tidak mau lagi menonton televisi.
Sifatnya yang cepat bosan ini dibarengi dengan kegemarannya mengeksplorasi hal-hal baru dan kemampuan yang cepat dalam belajar. Jika ia disuguhi makanan baru, dia akan bersemangat mencobanya meskipun mungkin ternyata ia tidak doyan atau tidak menyukainya.
Ia juga senang sekali belajar. Kebetulan saat di playgroup, ia sudah diajari membaca dan menulis oleh guru-gurunya meskipun usianya baru tiga tahun. Bahkan setiap hari diberi pekerjaan rumah. Awalnya kami takut itu akan membuatnya tertekan tapi ternyata dia sangat menikmatinya.
Kalau mau berangkat tidur, ia tidak bisa memejamkan mata sebelum menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan gurunya. Bahkan yang lucu, kalau dia mengigaui, igauannya biasanya tentang kegiatan di playgroup. Di luar dugaan kami, sejak masuk playgroup, ia menjadi lebih doyan makan. Apalagi kalau ia diajak makan di playgroup bersama kawan-kawannya. Kalau kebetulan playgroup libur, ia bisa menjadi bete dan kumat susah makan.
Data-data seperti ini tentu hanya orangtua yang tahu. Dan orangtua hanya akan bisa tahu kalau dia melakukan pengamatan saksama setiap hari. Dokter pun biasanya tidak akan sampai menanyakan hal-hal detail seperti ini kalau kita membawa si kecil ke tempat praktiknya.
Dengan modal hasil pengamatan ini, alhamdulillah kami berhasil membuat dia mau makan. Meskipun makannya sedikit-sedikit, gizinya tetap tercukupi karena kami juga menyediakan cemilan sehat untuk ia kudap di antara jam makan. Walaupun sering tidak makan nasi selama beberapa hari, dia tumbuh sangat sehat sampai membuat neneknya heran dan mau mengakui bahwa cucunya baik-baik saja.
Dan, seperti yang dikatakan di semua referensi, seiring bertambahnya usia, masalah susah makan ini sedikit demi sedikit hilang. Secara pelan-pelan dia bisa makan menu yang kami makan sehari-hari tanpa minta dibuatkan tiga macam menu yang berbeda setiap hari seperti sebelumnya. Di usia 3,5 tahun, julukan “anak antinasi” yang melekat padanya secara resmi ditanggalkan. Ia sudah bisa makan nasi tiga kali sehari seperti kami.

Masing-masing anak anggota GTM tentu memiliki kecepatan sendiri-sendiri dalam hal belajar makan seperti orang dewasa. Namun, ada satu hal yang dinyatakan secara jelas di semua referensi: masalah susah makan pada anak akan berangsur-angsur hilang seiring dengan bertambahnya usia. Jadi, tak perlu senewen apalagi marah-marah. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s