SOLUSI MENYELURUH

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:

Problem susah makan pada anak biasanya tidak berdiri sendiri. Masalah ini pada umumnya terkait dengan masalah kesehatan dan tumbuh kembang lainnya. Kalau si kecil tidak mau makan, berarti ada sesuatu yang tidak beres dari kesehatannya.
Agar tahu masalahnya, kita harus melakukan pengamatan menyeluruh, tidak hanya terkait soal makanan. Selain mengevaluasi kembali makanan-makanan yang kita pilihkan buat dia, kita juga harus memperhatikan sisi psikologi anak. Mungkin kita sebagai orangtua kurang mengajaknya bermain. Mungkin dia terlalu dikekang, bosan dengan kegiatannya sehari-hari karena tidak punya teman bermain.
Kita juga harus melihat kondisi kesehatannya secara umum. Kalau memang dia sering sakit, itu berarti kita harus menyelesaikan masalah ini lebih dulu. Mungkin saja gangguan makannya terjadi karena dia terlalu sering demam, pilek, batuk, radang tenggorok, dan terlalu sering minum obat dari dokter. Hal-hal seperti ini tidak boleh luput dari perhatian kita.
Masalah Kesehatan
Kondisi sakit sudah jelas bisa merusak nafsu makan anak. Semua orangtua sudah tahu. Tapi mungkin banyak yang belum menyadari bahwa obat-obatan yang diminum anak saat sakit pun secara tidak langsung bisa saja menjadi penyebab anak susah makan. Kok bisa?
Ketika anak sakit ringan seperti demam, flu, pilek, batuk, atau radang tenggorok, orangtua sering kali cepat panik dan langsung membawa anak ke dokter. Pulang dari dokter, kemungkinan besar si kecil mendapat berbagai macam obat, salah satunya mungkin antibiotik.
Jika penyakit si anak disebabkan oleh virus, pemberian antibiotik justru akan merugikan kesehatannya. Antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Jika si kecil meminumnya, obat ini justru akan merusak keseimbangan bakteri baik di dalam ususnya. Kondisi ini justru akan menurunkan daya tahan tubuhnya. Setelah itu dia justru akan menjadi lebih mudah sakit.
Kondisi seperti ini bisa menciptakan lingkaran setan yang baru. Karena terlalu banyak minum obat, si anak mudah sakit. Karena mudah sakit, ia tidak begitu bernafsu makan, sehingga gizinya kurang, dan daya tahan tubuhnya tidak baik. Karena sering sakit, ia sering minum antibiotik. Begitu seterusnya.
Lingkaran-lingkaran setan seperti ini harus diputus di tahap paling awal. Kalau sakitnya si kecil cuma sakit ringan, misalnya demam, flu, pilek, batuk, atau radang tenggorok karena virus biasa, ia tak perlu minum antibiotik. Orangtua bisa melakukan perawatan sendiri di rumah.
Penyakit-penyakit di atas tergolong self limiting diseases. Akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu atau dua minggu walaupun si kecil tidak minum antibiotik. Agar kita bisa melakukan perawatan anak di rumah, kita perlu belajar dari buku-buku kesehatan anak. Intinya, saat anak sakit ringan, orangtua jangan mudah panik dan menyerahkan nasib si kecil di tangan antibiotik. Antibiotik bisa sangat berguna kalau anak mengalami infeksi bakteri. Di luar itu, antibiotik adalah racun. 
Minum Obat Seperlunya Saja
Apa yang bisa kita lakukan agar anak tidak sering sakit dan tidak terlalu banyak minum obat? Yang utama, pencegahan. Salah satu bentuk pencegahan yang paling murah dan paling baik adalah pemberian ASI. Anak ASI pada umumnya lebih sehat daripada “anak sapi”.
Bagaimana kalau anak sudah telanjur tidak mendapatkan ASI dan sekarang dia sakit-sakitan? Pertama-tama, orangtua harus banyak belajar lagi tentang ilmu kesehatan. Ini bagian dari wujud cinta kepada anak. Juga sebagai bentuk “penebusan dosa” karena tidak memberi ASI.
Orangtua yang paham ilmu kesehatan tak akan mudah panik kalau anaknya terkena demam, pilek, batuk, dan radang tenggorok. Kalau sakitnya ringan, anak tidak perlu dibawa ke dokter. Daripada diberi obat-obatan yang tidak diperlukan, ia cukup dirawat di rumah saja.
Dalam banyak kondisi sakit, anak-anak sebetulnya sering kali tidak memerlukan obat. Mungkin ia hanya perlu minum lebih banyak ASI atau susu formula dan istirahat. Demam sendiri tidak berbahaya asalkan suhunya tidak sampai 38 oC. Peningkatan suhu badan sebetulnya adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan virus.
Batuk pun pada dasarnya juga tidak berbahaya sekalipun sampai grok-grok. Itu adalah adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk membuang pengganggu di saluran napas. Tubuh memproduksi dahak tujuannya untuk menghalau pengganggu itu. Jadi, dahak bukan sesuatu yang perlu ditakuti, justru harus dipandang sebagai kawan.
Rawat Sendiri di Rumah
Kalau deman ringan dan batuk ringan dilawan dengan obat, itu justru akan membuat daya tahan tubuhnya tidak bekerja. Maka, sebelum berpikir tentang obat, orangtua sebaiknya mencoba lebih dulu cara non-obat, misalnya pijat dengan balsem khusus balita yang lembut. Contoh merek dagang Transpulmin BB®.
Contoh lain, untuk membantu mengencerkan dahak, kita bisa memberi uap air panas mirip sauna. Biarkan si kecil menghirup uap hangat agar dahaknya menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan. Kita juga bisa menambahkan beberapa tetes minyak kayu putih atau minyak telon di air panas itu untuk menciptakan efek aromaterapi.
Kalaupun anak membutuhkan obat, sebisa mungkin usahakan memilih obat yang paling aman. Misalnya, kalau hidung si kecil tersumbat oleh ingus kental, kita bisa menetesinya dengan tetes hidung berupa larutan garam steril yang banyak dijual di apotek. Contoh merek dagang Breathy®.
Begitu ingusnya sudah encer, kita bisa mengeluarkannya dengan cara memencet hidung si kecil secara lembut menggunakan tisu. Saat si kecil tidur, kita bisa mengatur posisi tidurnya miring dan memberinya bantal yang agak tinggi supaya ingusnya tidak mengganggu pernapasan.
Sumber: Shutterstocks.com/
Kalaupun si kecil sampai perlu obat pelega napas, kita bisa memberinya obat pelega napas (dekongestan) dalam bentuk tetes hidung yang juga banyak dijual di apotek. Contoh merek dagang: Afrin®, Otrivin®. Asal tidak digunakan tidak lebih dari tiga hari berturut-turut, obat tetes ini masih tergolong aman. 
Untuk meredakan demam, kita bisa mengompresnya. Jika demamnya sampai 38 oC, kita bisa memberi si kecil parasetamol. Jangan lupa beri banyak minum, entah dalam bentuk ASI, susu formula, air tajin, perasan buah, kaldu sup, atau sekadar air putih. Pada saat demam, anak-anak mudah kehilangan cairan. Itu sebabnya dia harus banyak minum air putih.
Namun, selama perawatan di rumah itu, kita tetap harus waspada. Demam yang dialami si kecil bisa saja demam berdarah. Batuknya bisa saja infeksi bakteri di paru-paru. Radang tenggoroknya bisa saja infeksi bakteri strep yang berbahaya. Karena itu, jika sudah diobati tapi sakitnya malah menjadi parah, atau si kecil sampai tidak bisa tidur, kita harus segera membawanya ke dokter. Untuk pembahasan yang lebih komplet mengenai cara perawatan anak di rumah, kita bisa membaca buku-buku kesehatan anak. Terlalu panjang jika kita ulas di bab yang singkat ini.
Masalah Pengasuhan
Masalah anak susah makan mungkin juga terjadi karena  masalah pengasuhan, misalnya anak terlalu dimanja atau dia sedang mencari perhatian. Apa hubungan sikap manja dengan gangguan makan? Ketika si kecil menolak makanan yang kita berikan kepadanya, bisa jadi itu adalah cara dia mencari perhatian. Jadi, sebetulnya dia tidak bermasalah dengan makanannya, melainkan dengan kebiasaannya mendapat perhatian secara berlebihan.
Menolak makanan hanya salah satu caranya. Kalau dia juga kerap menolak memakai baju yang kita pilihkan, menolak mandi, dan menolak perintah-perintah lain orangtua, bisa jadi itu masalahnya memang bukan di makanan tapi perilakunya yang memang senang menolak segala sesuatu agar mendapat perhatian orangtuanya. Fase ini bisa saja terjadi ketika si kecil sudah memasuki usia ketika dia mulai banyak ulah dan menunjukkan kenakalannya.
Jika ini yang terjadi, sebetulnya si kecil tidak sedang mengalami masalah susah makan melainkan susah diatur. Problem ini tidak terkait dengan nafsu makan melainkan sikap anak. Ini lebih tepat masuk ke wilayah psikolog, bukan dokter anak. Jika ini yang terjadi, sebetulnya kita harus bersyukur sebab itu memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan cara kita mengasuhnya.
Ada kalanya masalah susah makan disebabkan oleh berbagai faktor yang berkumpul menjadi satu. Tak hanya masalah kesehatan tapi juga masalah pengasuhan. Misalnya, si kecil sakit-sakitan, juga terlalu banyak minum susu dan makan jajanan tak sehat, kurang bermain, dan terlalu dikekang. Jika semua faktor seperti ini berkumpul jadi satu, tentu solusinya pun harus menyeluruh.

Intinya, masalah susah makan bisa disebabkan oleh banyak hal. Kemungkinannya banyak sekali. Orangtua harus mengenali dulu penyebabnya baru mencari solusinya. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s